Harga Migas Dunia Tinggi Jadi Momentum Meningkatkan Produksi

107

JAKARTA, NMN – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) memprediksi harga minyak dan gas (migas) di pasaran internasional akan tetap tinggi beberapa tahun ke depan. Industri hulu migas harus dapat memanfaatkan momentum ini dengan meningkatkan produktifitas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa Pemerintah telah menetapkan target lifting tinggi di 2022 dan mempunyai tantangan yang harus dilewati agar target 2030 bisa dicapai.

Karenanya SKK Migas dan para pelaku usaha serta pemerintah harus bisa duduk bersama bisa mencari langkah dan upaya untuk meningkatkan lifting agar target 2022 bisa dicapai.

“Pemerintah telah menetapkan target lifting 2022 untuk minyak sebesar 703 ribu BOPD dan lifting gas 5.800 MMSCFD. Untuk mencapai target ini tidak bisa dengan cara-cara biasa. Kita harus melakukan upaya extra ordinary dengan melakukan eksplorasi yang masif, menerapkan teknologi, meningkatkan investasi dan memberikan dukungan fiskal”, kata Arifin, Rabu (16/3).

Menurut Arifin kenaikan harga migas memberikan windfall profit bagi Pemerintah dan KKKS. Namun pada sisi lain, meningkatnya beban keuangan negara karena meningkatnya subsidi energi dan listrik.

“Pencapaian target lifting 2022 tentu akan memberikan dukungan positif bagi negara, tidak hanya terkait penerimaan negara, tetapi juga menjaga defisit minyak tidak semakin melebar”, ujar Arifin.

Arifin menambahkan bahwa meningkatnya harga minyak dunia, tidak serta merta meningkatkan investasi hulu migas, karena secara bersamaan ada peningkatan investasi di sektor EBT. Peningkatan produksi migas 2030 tanpa investasi mustahil bisa dicapai, serta perlu melakukan terobosan dalam ekplorasi maupun term and condition yang menarik.

“Saat ini Pemerintah bersama DPR sedang membahas RUU Migas. Kami mengharapkan masukan konkrit, apa saja di RUU Migas yang perlu diatur untuk meningkatkan gairah investasi. Selain itu, saya mengingatkan bahwa resiko tinggi di hulu migas untuk meminimalkannya agar KKKS mengedepankan efisiensi sehingga dapat mendorong harga gas di end user lebih kompetitif”, jelas Arifin.

Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas menegaskan bahwa migas akan terus berperan dan dibutuhkan dalam pembangunan, terlebih dengan tingginya harga minyak dunia memberikan kontribusi yang optimal bagi penerimaan negara.

Tahun 2021 penerimaan negara dari hulu migas mencapai US$ 13,67 miliar atau setara Rp 206 triliun dan mencapai 188,8% dari target APBN 2021 yang sebesar US$ 7,28 miliar.

“Namun demikian, perlu juga diketahui bahwa kondisi capaian produksi dan lifting tahun 2021, masih dibawah dari target yg ditetapkan dalam APBN 2021 dan Long Term Plan (LTP) Industri Hulu Migas, sehingga perlu adanya program “recovery plan”. Karena itu, tahun 2022 akan menjadi kunci agar target LTP tetap on the right track”, ujar Dwi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here