Sektor Logistik 2022 Tetap Optimis

378
Foto: Pelindo 1

JAKARTA, NMN – Pandemi COVID-19 telah memukul segala sektor, baik ditataran domestik maupun secara global. Sektor industri logistik tidak luput dari dampak yang diakibatkan oleh adanya pandemi COVID-19.

Supply Chain Indonesia (SCI) memprediksi kontribusi sektor logistik (transportasi dan pergudangan termasuk kurir) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga akhir tahun 2021 sebesar Rp 676,0 triliun atau terkontraksi sebesar 2,03 persen (y-on-y).

Untuk subsektor transportasi, SCI memperkirakan kontribusi terhadap PDB tahun 2021 sebesar Rp548,8 triliun atau terkontraksi sebesar 1,36 persen (y-on-y). Sementara untuk subsektor pergudangan), SCI memperkirakan kontribusi terhadap PDB tahun 2021 sebesar Rp 127,2 triliun atau terkontraksi sebesar 5,54 persen (y-on-y).

Peristiwa tahun 2021 telah cukup mempengaruhi rantai pasokan dan industri logistik global, mulai dari kenaikan harga per spot, kekurangan tenaga kerja, ketidaktersediaan kontainer, meroketnya ekspektasi pelanggan, peningkatan volume pesanan, permintaan model pemenuhan baru, pandemi Covid-19, bencana alam. Bahkan, rumor pun telah menjadi ‘badai sempurna’ untuk sektor logistik.

Meski demikian, Disrupsi teknologi pada 2021 akan mendorong perusahaan di sektor/industri logistik untuk terus berinovasi dan menjalankan operasionalnya secara lebih strategis.

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan perusahaan penyedia jasa logistik perlu melakukan perencanaan bisnis yang tepat terkait pertumbuhan tipis sektor logistik pada tahun 2022. Penguatan dan perluasan segmentasi pasar dapat dilakukan terhadap beberapa sektor dan kelompok produk atau komoditas dengan volume dan tingkat pertumbuhan yang baik.

Perusahaan penyedia jasa logistik juga perlu mencermati perubahan sosial dan pola bisnis yang mempengaruhi operasional logistik seperti sharing economy, logistics marketplaces, dan omnichannel logistics.

Selain itu, berbagai perkembangan teknologi terkait perlu dicermati dan dimanfaatkan seperti big data analytics, artificial intelligence, internet of things, block chain, cloud logistics, serta robotics & automation.

Secara internal, perusahaan perlu meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional dengan peningkatan kapabilitas proses, pemanfaatan teknologi, dan kompetensi SDM.

Pelaku bisnis logistik perlu segera melakukan adaptasi terhadap perubahan. Hal itu diperlukan jika tidak ingin dilibas perkembangan perdagangan maupun tuntutan masyarakat dan perilaku konsumen yang bertransformasi sangat cepat memanfaatkan digitalisasi.

Transformasi digital yang dilakukan oleh sektor logistik merupakan sebuah keharusan dan dinilai bisa menjadi katalis untuk bisa bertahan hingga melakukan berbagai ekspansi terutama selama terjadinya pandemi Covid-19 hingga sekarang ini.

“Perusahaan logistik yang tidak mau melakukan perubahan itu dampaknya bisa tutup. Apalagi peluang bisnis perusahaan jasa kirim maupun e-commerce kian moncer seiring dengan maraknya aktivitas belanja daring masyarakat selama masa Pandemi ini,” ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi.

Optimis Tetap Tumbuh di 2022

Industri logistik diyakini tetap tumbuh sepanjang 2022 meski menghadapi banyak tantangan. Pertumbuhan sektor logistik bisa terjadi signifikan bila penguatan dan perluasan segmen pasar dilakukan para pelaku industri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan berkata, penguatan dan perluasan segmen pasar bisa dilaksanakan di beberapa sektor atau komoditas, dengan melihat volume dan tingkat pertumbuhan yang baik untuk 2022.

“Ada dua strategi yang harus dimiliki para pelaku usaha di sektor logistik sepanjang 2022. Pertama, pebisnis di sektor ini harus melakukan digitalisasi layanan. Berbagai perkembangan teknologi harus dipahami dan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku usaha. Kedua, strategi tata kelola manajemen perusahaan yang baik agar setiap penyedia jasa logistik meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam melakukan kegiatan usaha dengan peningkatan kapabilitas dan kompetensi SDM,” kata Akbar Djohan.

Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) pun memprediksi sejumlah sektor industri termasuk logistik mampu bertumbuh hingga maksimal dua digit pada 2022 walaupun pada semester kedua tahun 2021 terdapat gangguan kelangkaan kontainer dan naiknya biaya angkutan laut domestik., sebagian industri nasional masih memiliki ketergantungan yang tinggi dalam bahan baku impor, akibat dari kelangkaan kontainer global mengganggu ketersediaan volume inventori pada sisi pasokan [sourcing],” ujarnya dalam laporan Outlook Supply Chain dan Logistik Indonesia 2022, Rabu (26/1/2022).

Menurutnya, kondisi kelangkaan kontainer dan ketergantungan yang tinggi dalam bahan baku impor tersebut mengakibatkan perlambatan pada proses produksi dan berkurangnya kapasitas pasokan barang jadi ke pasar.

“Pemberdayaan supply chain, visibilitas, dan data analitik akan menjadi standar. Di dalam praktik supply chain pada masa depan akan membaurkan alat-alat digital dalam proses supply chain,” kata Ketua Umum ALI Mahendra Rianto.

Sumber daya manusia yang memiliki talenta digital dan keahlian teknis pada proses supply chain menjadi kunci. Hal ini menjadi tantangan besar mengingat saat ini terdapat gap antara kebutuhan profesional di sektor supply chain dan talenta digital dengan pasokan sumber daya manusia yang tersedia. Indonesia harus mempersempit kesenjangan tersebut dengan secara serius memprioritaskan pada pengembangan pendidikan dan pelatihan yang link & match dengan kebutuhan industri.

“Bila hal ini tidak digarap dengan serius, Indonesia akan kekurangan talenta supply chain digital pada masa mendatang, dan tentu akan diisi oleh tenaga asing karena banyak pekerjaan supply chain yang dapat dilakukan dari jarak jauh,” sebutnya.

Lebih lanjut Mahendra menambahkan, kerja sama antara organisasi profesional, akademisi, pemerintah dan pelaku industri sangat penting untuk meningkatkan kelompok profesional supply chain saat ini.

Melihat tren ini, ALI mengusulkan sejumlah rekomendasi terkait program transformasi digital logistik yang bisa dilakukan untuk mendorong digitalisasi dalam layanan supply chain. Salah satunya dapat dilakukan dengan mempercepat implementasi penuh (full implementation) National Logistics Ecosystem (NLE), dan pengembangan infrastruktur digital, serta mempersiapkan regulasi untuk mendukung implementasi dan keamanan data.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here