The Observer Menyoroti Kerusakan Terumbu Karang Terbesar di Dunia

Dalam beberapa pekan ini, anggota komite warisan dunia UNESCO akan mengadakan pertemuan di Bonn untuk membahas masalah yang ringan namun cukup mengganggu yaitu ancaman kerusakan sistem terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef, Australia. Terumbu karang, yang mampu mendatangkan keuntungan ke negara sebesar AUD5 miliar per tahun dari sektor pariwisata, merupakan situs warisan dunia yang memiliki lebih dari 400 jenis terumbu karang dan 1.500 spesies ikan. Berada di perairan Queensland, terumbu karang sepanjang 1.400 mil ini merupakan salah satu keajaiban dunia. Namun, saat ini, terumbu karang tersebut mulai terkikis dengan tingkat pengikisan yang mengkhawatirkan.

Meningkatnya suhu laut, mengasamnya lautan, banyaknya topan beberapa tahun terakhir, masalah polusi akibat pupuk dan aliran air saluran pembuangan dari pertanian dan perkotaan serta kerusakan akibat pengembangan pelabuhan di pantai timur Australia demi membantu negara tersebut menyuplai batu bara ke Tiongkok telah memberikan dampak yang buruk pada Great Barrier Reef.

Dalam 30 tahun terakhir, setengah terumbu karang sudah hilang. Seperti Taj Mahal, salah satu keajaiban dunia lainnya yang kehilangan setengah bangunannya, hal ini menjadi bahaya yang besar. Desakan dari kelompok pecinta alam hanya mampu menempatkan Great Barrier Reef pada peringkat 46 dari total 1.007 situs warisan dunia UNESCO.

Namun, baru kali ini pemerintah Australia merespon ancaman tersebut. Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, menyadari adanya bahaya yang mengancam daya tarik utama negaranya tersebut yang memberikan dampak buruk pada sektor pariwisata jika tidak ditangani dengan baik. Upaya mengurangi polusi dan mengalokasikan dana miliaran dolar untuk merevitalisasi terumbu karang sangat penting dilakukan.

Hingga kini, langkah tersebut dipandang cukup untuk menghentikan laju pengikisan Great Barrier Reef atau menyelamatkannya dari bahaya. Namun faktanya, hanya sedikit yang dapat dilakukan oleh Australia dalam menyelamatkan terumbu karang karena masih banyak faktor lain di luar tindakan kendali cepat negara tersebut. Peningkatan suhu dunia dan pengasaman air laut yang disebabkan oleh banyaknya karon dioksida, contohnya, telah menghancurkan terumbu karang di seluruh planet. Sementara itu, faktor lainnya yaitu penangkapan ikan berlebihan telah membuat terumbu karang berada pada tingkat krisis.

Menurut laporan yang dibuat oleh ilmuwan Inggris dan Australia dan diterbitkan pekan lalu, terumbu karang yang merupakan habitat penting makhluk laut di planet ini banyak dihancurkan oleh armada kapal ikan industri. Peneliti menyatakan 83% dari 800 terumbu karang di 64 lokasi di seluruh dunia telah kehilangan lebih dari setengah jumlah ikan. Penurunan jumlah ikan terbesar terjadi sejak tahun 1970an. Para ilmuwan menyatakan selain bahaya yang mengancam berbagai spesies ikan, dampaknya terhadap terumbu karang juga sangat mengkhawatirkan. Rudderfish, parrotfish, damselfish dan penghuni terumbu karang lain memakan hewan tak bertulang belakang dan membuang alga yang dapat membunuh terumbu karang. Jika pemangsa tersebut hilang, terumbu karang mulai terkikis. Bahkan, ketika upaya perlindungan untuk mengendalikan dan membatasi penangkapan ikan diterapkan, masih butuh 60 tahun agar terumbu karang pulih.

Ini menjadi pandangan yang suram meskipun pembuat laporan tersebut juga menekankan bahwa mereka dibujuk untuk menemukan bahwa, ketika beberapa bentuk pengelolaan diterapkan pada terumbu karang, jumlah biomassa yang besar, termasuk ikan dan terumbu karang dapat bertahan di sana. Dengan kata lain, dengan mengelola sektor perikanan, terumbu karang memiliki kesempatan untuk berkembang.

Namun, dalam jangka panjang, sulit untuk merasa optimis karena pengasaman air laut yang menjadi ancaman selain pemanasan global akan terus berlanjut hingga ada perjanjian internasional yang mengurangi bahan bakar fosil dan emisi karbon dioksida. Saat itulah pengikisan terumbu karang akan berhenti.

Kita harus menyadari apa yang saat ini berada dalam kondisi kritis. Terumbu karang memang hanya mengisi kurang dari 0.1 persen dari permukaan laut dunia namun mampu menyediakan habitat bagi seperempat spesies laut di dunia. Kontribusi terumbu karang ke planet ini pernah diutarakan oleh David Attenborough dalam sebuah interview di Observer. Saat dia mengamati, jika kita menginginkan keindahan dan kehidupann di alam liar, tidak ada prospek yang lebih baik selain mengunjungi terumbu karang. Terumbu karang dihuni oleh ikan dan karang dengan beragam warna. Sebagaimana pernyataan Attenborough, pemandangannya sangat memukau. Oleh karena itu, dunia hanya memiliki dua pilihan: mengurangi penangkapan ikan dan membatasi emisi karbon atau kehilangan keajaiban ala mini selamanya. (Ast/Mhf)

 
Sumber: theguardian.com

Latest Article

Gagalnya Jokowi Menjadikan Laut sebagai Masa Depan Bangsa

0
Presiden Jokowi bolehlah sedikit berbangga dengan pencapaian pembangunan infrastrukturnya yang lumayan mentereng. Selama hampir 10 tahun kepemimpinannya, telah terbangun 1.885 km jalan tol, 32.000...

Sektor Perikanan Tangkap Perlu Dikelola Secara Multifungsi dan Berkelanjutan

0
YOGYAKARTA – Dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM) Kamis (28/12/2023), Profesor Suadi menyampaikan urgensi pengelolaan multifungsional sektor perikanan tangkap...

Kolaborasi DP World – Maspion Group Membangun Terminal Petikemas di Jatim

0
JAKARTA, NMN- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan dukungan terhadap kolaborasi yang akan terjadi antara perusahaan global swasta DP World Dubai dengan perusahaan swasta...

Kemenhub Mulai Lakukan Persiapan Uji Petik Kelaiklautan Kapal Penumpang Jelang Nataru

0
MAKASSAR, NMN - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, menekankan pentingnya transportasi laut sebagai pilihan utama masyarakat dalam perjalanan antar pulau selama periode Natal 2023 dan...

Pemerintah Indonesia Hadiri Sidang Sub-Committee on Carriage of Cargoes and Container ke-9 di London

0
LONDON, NMN - Pemerintah Indonesia telah menghadiri Sidang Sub-Committee on Carriage of Cargoes and Container (CCC) ke-9 yang berlangsung dari Rabu (20/9) hingga Kamis...

Related Articles