Produksi Ikan Mini, Zona Khusus Disiapkan

Produksi perikanan budidaya pada tahun ini masih belum memuaskan. Dari target produksi sebanyak 17,9 juta ton, realisasi hingga akhir Maret 2015 lalu baru mencapai 3,58 juta ton atau hanya sekitar 20% dari target.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dari total produksi 3,58 juta ton ini, sekitar 60% didominasi produksi rumput laut, dan 40% lainnya berasal dari udang, ikan lele, ikan patin dan ikan nila.

Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP mengakui jika pada tiga bulan pertama tahun ini, produksi budidaya perikanan mengalami kendala cuaca seperti curah hujan yang sangat tinggi sehingga menganggu produksi.

Kendati demikian, Slamet masih optimistis dapat mengejar target produksi tahun ini dengan melakukan sejumlah langkah strategis.

Pertama, KKP berupaya mendapatkan wilayah atau zona khusus tempat perikanan budidaya di laut yang tidak tumpang tindih dengan kegiatan lain seperti pariwisata dan pertambangan. “Kami akan menjadikan laut sebagai area utama untuk mengembangkan perikanan budidaya,” ujarnya, Rabu (6/5).

Kedua, KKP akan mendorong industri pengolahan rumput laut di sentra produksi rumput laut agar produksi bisa ditingkatkan dan biaya transportasi lebih ditekan.

Ketiga, pengembangan komoditas budidaya produk ikan potensial, seperti ikan kakap dan kakap putih yang banyak diminati pasar.

Keempat, Slamet tengah mengusahakan transfer teknologi dan informasi bagi pembudidaya dari negara lain, khususnya anggota Network of Aquaculture Centres in Asia.

Pacific (NACA). Dalam forum ini, KKP akan mendapatkan informasi bagaimana negara-negara lain bisa mengatasi masalah di perikanan budidaya mereka.

Wajan Sudja, Sekretaris Jenderal Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo) mengatakan, produksi para pembudidaya melesu selama triwulan pertama 2015. Salah satu penyebabnya adalah ekspor ikan kerapu yang tertahan lantaran kebijakan KKP yang membatasi pergerakan kapal asing pembeli ikan. “Momentum imlek sudah lewat, jadi pasokan ikan menumpuk dan membuat pembudidaya kewalahan menjual ikan tersebut,” ujarnya.

Wajan bilang, bila KKP masih membatasi pergerakan kapal pembeli ikan dengan hanya mengizinkan di titik tertentu, kapal asing pembeli ikan bisa mengalihkan pembelian ke negara lain. (Dds)

 
Sumber: Kontan

Latest Article

Pelindo Layani 1,92 Juta Pemudik Pada Periode Angkutan Lebaran 2023

0
Memasuki H+15 Lebaran sekaligus penutupan operasional Posko Angkutan Lebaran Terpadu 2023, PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo mencatat sebanyak 1,92 juta pemudik melalui 63 terminal...

Dirjen Hubla Resmi Tutup Posko Angkutan Laut Lebaran Tahun 2023

0
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Arif Toha, secara resmi menutup Posko Angkutan Laut Lebaran Tahun 2023 (1444 H) pada Senin, (8/5) di Kantor Kementerian Perhubungan,...

Apresiasi Menhub Atas Keberhasilan dan Kelancaran Penanganan Arus Mudik 2023

0
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, secara resmi menutup Posko Angkutan Lebaran Terpadu (command center) Tahun 2023 yang telah berlangsung selama 19 hari mulai 14...

Langkah Antisipatif Kemenhub Hadapi Lonjakan Penumpang Angkutan Laut

0
Dalam menghadapi Angkutan Lebaran 2023, Kementerian Perhubungan telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi untuk menghadapi lonjakan penumpang dan lalu lintas pergerakan angkutan laut. Langkah ini...

Langkah Transformatif Belawan Untuk Masuk Dalam Ekosistem Global

Dalam rangka meningkatkan kinerja dan kapasitas Pelabuhan Belawan agar dapat masuk kedalam ekosistem global, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) mulai mempersiapkan langkah transformatif. Langkah transformatif yang...

Related Articles